Senin, 10 Januari 2011

Kajian Cerita Pendek dengan Pendekatan Sosiologi Sastra oleh Liestia Lestari

KAJIAN CERPEN ‘LANGKAH HARUN’ KARYA MUTAMINAH CALON PENULIS (NAMA PENA) MELALUI PENDEKATAN SOSIOLOGIS

I. SOSIOLOGI SASTRA

Sosiologi sastra berasal dari kata sosiologi dan sastra. Sosiologi memiliki arti, ilmu mengenai asal-usul dan pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang memelajari keseluruhan jaringan hubungan antarmanusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris. Sedangkan sastra memiliki arti, kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Kedua ilmu ini, memiliki objek yang sama, yaitu manusia.
Sosiologi sebagai suatu pendekatan terhadap karya sastra yang masih mempertimbangkan karya sastra dan segi-segi sosial Wellek dan Warren (1956-1984, 1990:111) membagi sosiologi sastra sebagai berikut:
 Sosiologi pengarang, profesi pengarang, dan istitusi sastra, masalah yang berkaitan di sini adalah dasar ekonomi produksi sastra, latar belakang sosial status pengarang, dan idiologi pengarang yang terlibat dari berbagai kegiatan pengarang di luar karya sastra, karena setiap pengarang adalah warga masyarakat, ia dapat dipelajari sebagai makhluk sosial. Biografi pengarang adalah sumber utama, tetapi studi ini juga dapat meluas ke lingkungan tempat tinggal dan berasal. Dalam hal ini, informasi tentang latar belakang keluarga, atau posisi ekonomi pengarang akan memiliki peran dalam pengungkapan masalah sosiologi pengarang. (Wellek dan Warren, 1990:112)
 Sosiologi karya sastra yang memasalahkan karya sastra itu sendiri yang menjadi pokok penelaahannya atau apa yang tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya. Pendekatan yang umum dilakukan sosiologi ini mempelajari sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial (1990:122). Beranggapan dengan berdasarkan pada penelitian Thomas Warton (penyusun sejarah puisi Inggris yang pertama) bahwa sastra memiliki kemampuan merekam ciri-ciri zamannya. Bagi Warton dan para pengikutnya, sastra adalah gudang adat istiadat, buku sumber sejarah peradaban.
 Sosiologi sastra yang memasalahkan pembaca dan dampak sosial karya sastra, pengarang dipengaruhi dan mempengaruhi masyarakat; seni tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Banyak orang meniru gaya hidup tokoh-tokoh dunia rekaan dan diterapkannya dalam kehidupannya.
Klasifikasi Wellek dan Warren sejalan dengan klasifikasi Ian Watt (dalam Damono, 1989: 3-4), yang meliputi hal-hal berikut:
1. Konteks sosial pengarang, dalam hal ini ada kaitannya dengan posisi sosial pengarang dalam masyarakat, dan kaitannya dengan masyarakat pembaca termasuk juga faktor-faktor sosial yang dapat mempengaruhi karya sastranya, yang terutama harus diteliti, yang berkaitan dengan: a) Bagaimana pengarang mendapat mata pencahariannya, apakah ia mendapatkan dari pengayoman masyarakat secara langsung, atau pekerjaan yang lainnya, b) Profesionalisme dalam kepengaranganya, dan c) Masyarakat apa yang dituju oleh pengarang.
2. Sastra sebagai cermin masyarakat, maksudnya seberapa jauh sastra dapat dianggap cermin keadaan masyarakat. Pengertian “cermin” dalam hal ini masih kabur, karena itu banyak disalahtafsirkan dan disalahgunakan. Yang harus diperhatikan dalam klasifikasi karya sastra sebagai cermin masyarakat adalah: a) Sastra mungkin tidak dapat dikatakan cermin masyarakat pada waktu ditulis, sebab banyak ciri-ciri masyarakat ditampilkan dalam karya itu sudah tidak berlaku lagi pada waktu ia ditulis, b) Sifat “lain dari yang lain” seorang pengarang sering mempengaruhi pemilihan dan penampilan fakta-fakta sosial dalam karyanya, c) Genre sastra sering merupakan sikap sosial suatu kelompok tertentu, dan bukan sikap sosial seluruh masyarakat, d) Sastra yang berusaha untuk menampilkan keadaan masyarakat secermat-cermatnya mungkin saja tidak dapat dipercaya sebagai cermin masyarakat. Sebaliknya, sastra yang sama sekali tidak dimaksudkan untuk menggambarkan masyarakat mungkin masih dapat digunakan sebagai bahan untuk mendapatkan informasi tentang masyarakat tertentu. Dengan demikian pandangan sosial pengarang diperhitungkan jika peneliti karya sastra sebagai masyarakat.
3. Fungsi sosial sastra, maksudnya seberapa jauh nilai sastra berkaitan dengan nilai-nilai sosial. Dalam hubungan ini ada tiga hal yang harus diperhatikan 1) Sudut pandang ekstrim kaum Romantik yang menganggap sastra sama derajatnya dengan karya pendeta atau nabi. Karena itu sastra harus berfungsi sebagai pembaharu dan perombak, 2) Sastra sebagai penghibur saja, dan 3) Sastra harus mengajarkan sesuatu dengan cara menghibur.

Dari pengertian-pengertian sosiologi sastra menurut beberapa ahli di atas, dapat saya simpulkan, bahwa sosiologi sastra erat kaitannya dengan kehidupan sosial yang terjadi pada penulis (yang mempengaruhi proses penulisan sebuah karya sastra), maupun segi sosial yang benar-benar dicerminkan penulis dalam karyanya (lepas dari segi kemasyarakatan yang berhubungan langsung dengan penulis).


II. CERPEN ‘LANGKAH HARUN’

Langkah Harun

Di kamar kontrakannya yang sempit dan gelap, Harun gelisah tak menentu. Kadang dia berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, kadang duduk, dan kadang berbaring sembari menatap langit-langit kamarnya yang telah usang. Wajahnya tegang seperti digelayuti beban ratusan kilogram. Setiap tingkah polahnya terlihat gugup. Udara panas yang telah melingkupinya tak terasa sedikit pun oleh harun.
“Aku tidak boleh diam saja di sini!” gumam Harun pada dirinya sendiri, tangannya mengepal menggenggam udara. Akhirnya Harun bergegas keluar dari rumahnya itu. Teriakan istrinya yang bertanya kemana Harun akan pergi, tak diindahkannya sama sekali.
Harun berjalan tergesa-gesa menyusuri jalanan-jalanan kampung yang gersang. Meski begitu, ia sama sekali tak tahu kemana tujuan langkahnya itu. Sementara otaknya terus berpikir keras mencari jalan keluar akan masalah pelik yang tengah dihadapinya.
Tak ada rasa lelah sama sekali yang dirasakan Harun, meski dirinya telah berjalan beberapa kilometer jauhnya. Begitu pun sinar mentari yang menyengat memanggang kulitnya yang kering dan mulai keriput, semuanya hanya seperti satu penghalang sepele yang tak berarti bagi Harun.
Kakinya yang beralaskan sandal karet terus menapak aspal. Baju kumalnya mulai basah menyerap keringat yang mengucur deras dari tubuhnya. Tapi tak juga ada titik terang yang ditemukan Harun.
Di suatu masjid, akhirnya Harun beristirahat. Pikirannya mengawang jauh meninggalkan dirinya yang malang itu. Di hatinya, dialog dengan Tuhan tengah digelar.
“Ya Tuhaaaan... Lihatlah hamba-Mu ini, kalau benar Kau ada, tolong bantu aku Tuhan. Katanya Kau Maha Melihat, masa Kau tidak melihat aku kesusahan seperti ini? Katanya Kau Maha Pengasih, tapi Kau tega sekali membiarkan aku dirundung masalah nyawa seperti ini? Apakah Kau menghendaki aku menjadi pembunuh duhai Tuhanku? Ohhh Tuhan, apakah orang miskin seperti aku ini tak layak memasuki satu saja pintu syurga-Mu dan menetap di dalamnya? Ya Tuhan... Aku kan juga ingin menjadi seperti Muhammad yang memuliakan Khadijah. Tapi apalah dayaku ini, aku hanya pengangguran yang bernasib sangat liar.
Begitulah terus dialognya dengan Sang Pencipta bergulir, hingga bosan dia menggerutu sendir dalam hatinya, sedang Tuhan tak jua menjawab dan menegurnya, setidaknya menghibur sedikit dengan mengingatkan bahwaroda akan berputar. Lalu dia kembali berdiri. Menghela nafas panjang, tanda dia siap kembali menyusuri jejak kasih sayang Tuhan itu.
Kini dia kembali mengayunkan langkah mencari sepotong harapan. Matanya lebih tajam mencari secuil kesempatan, “siapa tahu tersembunyi, hingga aku tak melihatnya”, yakinnya pada dirinya sendiri.
Tiba-tiba dia melihat sebuah kerumunan yang sangat padat di pelataran parkir sebuah gedung yang elok dipandang. Manusia-manusia berjejalan tak lagi menyisakan ruang untuk sekedar menyelusup ke sela-selanya. Mereka semua seperti kesetanan di siang bolong begini. Dengan perasaan yang bertanya-tanya akhirnya Harun mendekati kerumunan itu juga, tapi dia tak tahu, kerumunan apa itu sebenarnya?
“Pak, ini ada apa ya?” Tanyanya pada seorang satpam yang tampak sangat kerepotan mengamankan kerumunan itu. “Pembagian beras gratis.” Jawab Pak Satpam dengan muka garang.
***
Dua jam berlalu. Senyum puas tersungging di bibir Harun. Dijinjingnya sebuah keresek hitam. Jalanan itu kini kembali dilaluinya, tapi dengan hati yang lapang, bukan dengan hati yang resah tak menentu. Kerumunan orang itu semakin menjauh, hingga akhirnya teriakan-teriakan histeris yang menyelimutinya, tak lagi didengar Harun.
***
“Astagfirullahal’adzim... kenapa pak? Kenapa muka bapak bonyok begini? Lihat sekujur tubuh bapak memar begini! Bapak dipukuli orang? Kenapa pak?” ceracau istri Harun ketika melihat suaminya pulang dengan luka memar di tubuhnya. Dengan khawatir dia memeriksa keadaan Harun.
Harun dengan nada bangganya menjawab “Lihat Bu, betapa gagah suamimu ini karena telah menyelamatkanmu dan anak kita dari kematian karena kelaparan. Masaklah beras 1 kilogram ini, kulihat masih ada garam di dapur agar nasinya tak terasa hambar. Aku hebat kan, Bu?”

01 Oktober 2010



Sumber:
http//balaicerita.blogspot.com
balaicerita@gmail.com
Langkah Harun, oleh; Mutaminah Calon Penulis

III. KAJIAN CERPEN ‘LANGKAH HARUN’ DENGAN PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA
Wellek dan Warren (1956-1984, 1990:111) membagi hal yang diteliti oleh pendekatan sosiologi sastra menjadi tiga bagian. Namun pada kajian cerpen ‘Langkah Harun’ ini, saya akan lebih mengkaji sosiologi sastra melalui:
 Sosiologi karya sastra yang memasalahkan karya sastra itu sendiri yang menjadi pokok penelaahannya atau apa yang tersirat dalam karya sastra dan apa yang menjadi tujuannya. Pendekatan yang umum dilakukan sosiologi ini mempelajari sastra sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial (1990:122). Beranggapan dengan berdasarkan pada penelitian Thomas Warton (penyusun sejarah puisi Inggris yang pertama) bahwa sastra memiliki kemampuan merekam ciri-ciri zamannya. Bagi Warton dan para pengikutnya, sastra adalah gudang adat istiadat, buku sumber sejarah peradaban.

Cerpen ‘Langkah Harun’ seperti yang dicantumkan di atas, memiliki tokoh utama, yaitu Harun. Harun digambarkan sebagai seorang pengangguran yang hidup dalam keluarga yang perekonomian keluarganya sangat buruk. Bahkan, Harun diceritakan hampir putus asa terhadap keadaan ekonomi yang semakin buruk dalam keluarganya. Untuk sekedar mencari nasi bagi anak dan istrinya saja, Harun sudah sangat kebingungan. Hingga akhirnya, Harun mencoba mencari jalan keluar untuk memberi makan anak dan istrinya, meski ia pergi pun tanpa arah dan tujuan yang pasti.
Tokoh Harun seperti dalam cerpen ini, tampaknya merupakan cerminan bagi sebagian besar masyarakat di negara kita, yang hingga kini hidup dalam kemiskinan. Jumlah kemiskinan di Indonesia pada Maret 2009 saja mencapai 32,53 juta atau 14,14% ( www.bps.go.id ). Selain itu, jumlah pengangguran pun tidak kalah tingginya. Pada tahun 2009, dari 21,2 juta masyarakat Indonesia yang masuk dalam angkatan kerja, sebanyak 4,1 juta orang atau sekira 22,2% adalah pengangguran. Bahkan dua juta orang dari data pengangguran tersebut, merupakan lulusan diploma dan universitas. Data ini merupakan hasil survei tenaga kerja nasional, Badan Perencanaan Nasional/Bappenas ( www.kompas.com ).
Indonesia yang hingga kini masih berstatus sebagai ‘negara berkembang’, tampaknya belum dapat mengatasi persoalan kemiskinan dan pengangguran ini. Karenanya, tidak heran akan banyak ‘Harun-Harun’ lain yang dapat kita temukan di pinggir jalan, kolong jembatan, bantaran sungai, dan lain sebagainya.
Cerpen ‘Langkah Harun’ ini, merupakan potret nyata sebagian besar masyarakat Indonesia, yang masih akrab dengan kemiskinan. Begitu jelas penggambaran kemiskinan ini pada tokoh Harun. Bagaimana frustasi dan susahnya seorang Harun dalam menghadapi kehidupannya. Penulis mungkin melihat keadaan masyarakat sekelilingnya yang masih berada dalam taraf kemiskinan. Karenanya, cerpen ‘Langkah Harun’ ini tercipta.
Saya pribadi tidak dapat mengkaji sosok penulis dari sudut kemasyarakatannya. Dikarenakan, penulis hanya mencantumkan nama penanya. Sehingga saya tidak dapat mengkaji sisi kemasyarakatan yang mungkin mempengaruhi penulis dalam pembuatan cerpen ‘Langkah harun’ ini.
Namun dari sisi kemasyarakatan yang ada (kehidupan nyata), dengan keadaan Harun dalam cerpen ini, memiliki hubungan yang erat. Sehingga, saya dapat menyimpulkan bahwa, cerpen ‘Langkah Harun’ dengan tokoh utama Harun ini, dapat dikatakan sebagai cerminan atau potret masyarakat Indonesia yang masih berada dalam taraf kemiskinan.
.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar